♥ Bismillah...."Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)," Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) dg ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. "(HR. Ath-Thabrani) ♥

Sabtu, 19 Februari 2011

❀ Sombong dengan Ilmu ❀


بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Seorang yang memiliki ilmu kadang terkena penyakit sombong dan bangga diri. Kalau ilmu yang dimiliki adalah ilmu-ilmu dunia, sangat mungkin ini terjadi. Namun yang aneh jika ia mempelajari ilmu agama, seharusnya makin bertambah ilmunya bertambah pula kebaikannya.

Ada pertanyaan di sana: “Untuk apakah ia belajar?” Karena niat itulah yang akan menjawab mengapa seorang bertambah ilmu agamanya, malah semakin menjadikannya sombong. Jika ia meniatkan belajarnya untuk beramal dengan ilmunya, maka semakin bertambah ilmunya ia akan semakin shalih. Namun sebaliknya jika ia belajar hanya ingin disebut sebagai alim ulama, atau belajar untuk mengalahkan seseorang, maka tidak akan berkah ilmunya dan tidak akan berbuah dengan amalan-amalan.


Ka’b bin Malik radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ ابْتَغَى الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءُ أَوْ يُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءُ أَوْ تَقْبَلُ أَفْئِدَةَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَإِلَى النَّارِ. (رواه الحاكم، وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير)
“Barangsiapa yang mencari ilmu untuk mendapatkan sebutan sebagai ulama atau memperdaya orang-orang yang bodoh atau untuk memalingkan manusia kepadanya, maka atasnya api neraka.” -- (HR. Hakim, Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ ash-Shaghir)

Berkata Abu Yusuf Al-Qadhi rahimahullaah: “Wahai kaumku, harapkanlah dengan ilmu kalian keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh tidaklah aku duduk di suatu majelis ilmu yang aku niatkan padanya tawadhu’, kecuali aku bangun dalam keadaan telah mendapat kemuliaan. Sebaliknya tidaklah aku duduk di satu majelis ilmu yang aku niatkan untuk mengalahkan mereka kecuali aku bangun dalam keadaan Allah bukakan aibku. Ilmu adalah salah satu ibadah dan taqarrub.” -- (Tadzkiratu As-Sami’ wal Mutakallim, Ibnu Jama’ah, melalui Min Hadyi Salaf, hal. 47)

Khatib Al-Baghdadi rahimahullaah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, berkata: “Ilmu menuntut amalan. Kalau ia disambut (diamalkan) ia akan menetap, namun kalau tidak dia akan pergi.” -- (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, melalui Hilya Thalabil ‘Ilmi, hal. 13-14)


Dikatakan pula dalam sebuah syair: “Ilmu akan menjauh dari seorang yang sombong, seperti air bah menjauh dari tempat yang tinggi.”

Seringkali seorang yang baru mendapatkan sedikit ilmu terkena penyakit sombong, merasa dirinya sebagai ulama dan melihat orang lain sebagai orang-orang yang bodoh. Inilah yang dijuluki oleh para ulama dengan ‘Abu Syibrin’.

Siapakah Abu Syibrin?
Abu Syibrin adalah orang yang baru mendapatkan ilmu pada jengkal pertama. Sedangkan para ulama menyatakan bahwa ilmu mempunyai 3 jengkal. Orang yang mencapai jengkal pertama menjadi sombong, pada jengkal kedua ia menjadi tawadhu’ (rendah hati), sedangkan pada jengkal ketiga ia akan merasa kalau dirinya belum tahu apa-apa. (Lihat sumber yang sama)

Juga sering terjadi pada sebagian pencari ilmu penyakit sombong, merasa dirinya paling shalih dan menganggap orang lain semuanya di bawahnya. Kemudian merasa diri paling dekat dengan Allah dan dicintai-Nya, sedangkan yang lain dianggap orang-orang yang jauh dan tidak dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan biasanya, pada puncaknya dia merasa dosa-dosanya diampuni, sedangkan dosa orang lain tidak akan diampuni.


Diriwayatkan dalam hadits qudsi dari Jundub Al-Bajaly radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهَ لِفُلاَنٍ. قَالَ اللهُ: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ. (رواه مسلم)
Sesungguhnya ada seseorang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang lancang mengatakan atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni fulaan?! Sungguh Aku telah mengampuni fulan dan menggugurkan amal-amalmu.” -- (HR. Muslim)


Kisahnya secara rinci diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ رَجُلاَنِ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ مُتَوَاخِيَانِ وَكَانَ أَحَدُهُمَا مُذْنِبًا وَالآخَرُ مُجْتَهِدًا فِي الْعِبَادَةِ وَكَانَ لاَ يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُوْلُ: أَقْصِرْ! فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ. فَقَالَ: خَلَّنِي وَرَبَّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيْبًا؟! فَقَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهَ لَكَ أَوْ لاَ يُدْخِلُكَ اللهُ الْجَنَّةَ. فَقُبِضَ رُوْحُهُمَا فَاجْتُمِعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا؟! فَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلآخَرِ: اذْهَبُوْا بِهِ إِلَى النَّارِ. (رواه أحمد وأبو داود، وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير)
Sesungguhnya dahulu di kalangan Bani Israil ada dua orang yang bersaudara. Salah satunya seorang pendosa, sedangkan yang lainnya seorang yang rajin beribadah. Dan bahwasanya sang ahli ibadah selalu melihat saudaranya bergelimang dosa, maka ia berkata: “Kurangilah!” Pada suatu hari ia mendapatinya dalam keadaan berdosa, maka ia berkata: “Kurangilah!” Berkata si pendosa: “Biarkanlah antara aku dan Rabb-ku! Apakah engkau diutus untuk menjadi penjagaku?” Sang ahli ibadah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” Atau: “Demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!” Dicabutlah ruh kedua orang tersebut dan dikumpulkan di sisi Allah. Maka Allah berfirman kepada ahli ibadah: “Apakah engkau mengetahui tentang Aku? Ataukah engkau merasa memiliki apa yang ada di tangan-Ku?” Dan Allah berkata kepada si pendosa: “Pergilah engkau dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” Dan berkata kepada ahli ibadah: “Bawalah ia ke dalam neraka!” -- (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)


Tidaklah kaum khawarij mengkafirkan kaum muslimin, kecuali karena kesombongan. Mereka merasa tidak pernah berdosa, sehingga menganggap orang yang berdosa sebagai kafir. Tidaklah mereka menghalalkan darah kaum muslimin kecuali karena kesombongan. Dan tidaklah kaum mu’tazilah dan rasionalis (JIL) meremehkan ilmu fiqh dan hadits, kecuali karena kesombongan pula.

Berkata Al-Anasi rahimahullaah: “Hati-hatilah dari penyakit para pembesar yaitu kesombongan. Sesungguhnya kesombongan, bangga diri dan kedengkian adalah awal dari kemaksiatan yang Allah dimaksiati dengannya. Maka ketahuilah bahwa merasa tinggi di hadapan gurumu, itu adalah kesombongan, menolak faedah ilmu dari orang-orang yang di bawahmu adalah kesombongan dan tidak beramal dengan apa yang diketahui juga merupakan belumbang kesombongan dan tanda kalau dia akan terhalangi dari ilmu.” -- (Siyar, juz IV, hal. 80)


# Hubungan Adab dengan Ilmu



Adab berkaitan erat dengan ilmu. Tidak ada adab tanpa ilmu dan tidak ada ilmu tanpa adab.
Berkata ‘Abdullah ibnul Mubarak rahimahullaah: “Hampir-hampir adab itu merupakan dua pertiga ilmu.” -- (Sifatu Shafwah, Ibnul Jauzi, juz 4, hal. 120)

Oleh karena itu para ulama mendidik anak-anak mereka dengan adab dan akhlaq terlebih dahulu sebelum mendapatkan ilmu. Berkata Abu ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaurirahimahullaah: “Mereka (para ulama) tidak mengirimkan anak-anaknya untuk mencari ilmu hingga mendidiknya dengan adab, akhlaq dan ibadah selama 20 tahun.” -- (Hilyatul Auliya, Abu Na’im Asbahani, juz 6, hal. 367 melalui Min Hadyi Salaf, Dr. Muhammad Zahrani, hal. 23)

Mereka membedakan antara pendidikan (tarbiyyah) dan pengajaran (ta’lim). Yakni anak-anak mereka dididik, dilatih dengan akhlaq dan adab yang baik, baru kemudian mereka dikirim kepada para ulama. Dengan demikian ketika menimba ilmu, mereka dalam keadaan memiliki adab dan akhlaq yang baik serta jauh dari kesombongan. Hingga ilmu yang mereka dapatkan menjadi berkah.

Berkata Abu Zakariya Yahya bin Muhammad An-Anbari (w 344H): “Ilmu tanpa adab adalah seperti api tanpa kayu bakar. Sedangkan adab tanpa ilmu seperti badan tanpa ruh.” -- (Al-Jami li Akhlaqi ar-Rawi, Al-Baghdadi 1/80, melalui Min Hadyi Salaf, Dr. Muhammad Zahrani, hal. 24)

Muhammad bin Isa Az-Zajjaj rahimahullaah juga mengatakan: “Aku mendengar Abu Ashim berkata: ‘Barangsiapa yang mencari ilmu hadits, maka ia sedang mencari ilmu yang paling mulia di dunia ini. Maka seharusnyalah ia menjadi orang yang paling mulia akhlaqnya.’” -- (Al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi, 1/78)


Lupakah kita kalau sesungguhnya ilmu yang kita punya akan ditanya tentang konsekuensi amalannya?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ. (رواه الترمذي وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير)

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba hingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia diamalkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dikeluarkan, dan tentang badannya untuk apa ia gunakan.” -- (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)

Tidakkah kita pernah mendengar kisah seorang yang dilemparkan ke tengah-tengah api neraka, keluar seluruh isi perutnya dan berputar-putar seperti keledai yang menggiling gandum? Siapakah ia?
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابَهُ فَيَدُوْرُ بِهَا فِي النَّارِ كَمَا يَدُوْرُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ. فَيُطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا فُلاَنُ! مَا أَصَابَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُوْلُ: بَلَى قَدْ كُنْتُ آمَرَكُم بِالْمَعْرُوْفِ وَلاَ آتِيْهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ. (متفق عليه)
Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam api neraka hingga keluar seluruh isi perutnya dan berputar-putar seperti keledai yang sedang menggiling gandum. Maka penduduk neraka mengelilinginya seraya berkata: “Apa yang menimpamu wahai fulaan? Bukankah engkau menyuruh kami pada yang baik dan mencegah kami dari yang mungkar?” Ia menjawab: “Sungguh aku memang menyuruh yang baik, tapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang yang mungkar, tapi aku justru mengerjakannya.” -- (HR. Bukhari Muslim)

Dengan kata lain, orang tersebut adalah seorang da’i yang berdakwah dengan ilmunya. Namun ia tidak mengamalkan apa yang telah diketahuinya.


# Seorang yang Berilmu tidak akan Berhenti Belajar


Berkata Sa’id ibnu Jubair rahimahullaah: “Seseorang akan tetap disebut ulama (orang yang berilmu) selama dia belajar. Adapun jika dia berhenti mencari ilmu dan menganggap dirinya telah cukup, maka dia menjadi orang yang paling bodoh.” -- (Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Berkata Ibnu Jama’ah rahimahullaah: “Janganlah seorang sombong menolak untuk mengambil faedah ilmu yang ia belum ketahui dari orang yang di bawahnya! Bahkan hendaklah ia bersungguh-sungguh mencari faedah ilmu, karena hikmah adalah milik seorang mukmin di manapun ia temui hendaklah ia mengambilnya.” -- (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Khatib Al-Baghdadi, melalui Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Berkata murid dari Imam Syafi’i yang bernama Khumaidi rahimahullaah: “Aku menemani Imam Syafi’i dari Makkah ke Mesir. Maka aku mendapatkan faedah dari beliau masalah-masalah fiqh, dan beliau mengambil faedah dariku ilmu hadits. Dan telah shahih riwayatnya bahwa para shahabat juga mengambil riwayat dari kalangan tabi’in.” -- (Tadzkiratu as-Sami’ wal Mutakallim, Ibnu Jama’ah, melalui Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Berkata Waqi’, Sufyan ibnu Uyainah dan Abu ‘Abdillah Al-Bukhari rahimahumullaah:“Sungguh seorang ahli hadits tidak dikatakan sempurna atau seseorang tidak dikatakan berilmu, hingga ia mengambil dari orang yang di atasnya, dari yang sekelasnya dan juga dari yang di bawahnya.” -- (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Khatib Al-Baghdadi, melalui Min Hadyi Salaf, hal. 77)


Wallaahu a’lam.

(Dinukil untuk http://almuslimah.co.nr/ dari Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi 121/Th. III/17 Dzulqa’dah 1427H/08 Desember 2006M, hal. 1-4, judul: Sombong dengan Ilmu. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. Telp. (0231)222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu ‘Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu ‘Abdirrahman Arief Subekti, HP 081564690956)

♥ Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah ♥

Penyusun: Ummu Uwais dan Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.

Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.
Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.
 
Wanita Berbeda Dengan Laki-Laki

Allah berfirman,
وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(Qs. Adz-Dzaariyat: 56)
Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.
Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.

Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.
Allah berfirman,
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى
“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)

Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.

Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?” Maka turunlah ayat yang artinya, “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…” (Qs. An-Nisaa’: 32)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)
Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Mari Menjaga Kehormatan Dengan Berhijab

Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)

Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit dibedakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti hiasan penutup kepala.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Semoga Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:
“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya,” (Qs. An-Nuur: 31)
“Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka.”

Subhanallah… jauh sekali keadaan wanita di zaman ini dengan keadaan wanita zaman sahabiah.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah Alloh yang satu ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)

Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:
  1. Menjaga kehormatan.
  2. Membersihkan hati.
  3. Melahirkan akhlaq yang mulia.
  4. Tanda kesucian.
  5. Menjaga rasa malu.
  6. Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.
  7. Menjaga ghirah.
  8. Dan lain-lain. Adapun untuk rincian tentang hijab dapat dilihat pada artikel-artikel sebelumnya.
Kembalilah ke Rumahmu
وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ
“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:
  1. Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.
  2. Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang menyertainya.
  3. Wanita tidak berkewajiban berjihad.
Sedangkan keluarnya mereka dari rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan karena kebutuhan dan darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah, apalagi dengan berhias atau memakai wangi-wangian sebagaimana halnya kebiasaan wanita-wanita jahiliyah.
Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:
  1. Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.
  2. Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.
  3. Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga dan mendidik generasi mendatang.
Islam adalah agama fitrah, dimana kemaslahatan umum seiring dengan fitrah manusia dan kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk bekerja kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat, dan sifat kewanitaannya. Sebab, seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di madrasah mereka yang pertama, yaitu: ‘Rumah’.

Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah

Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.
Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian.
Allah berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:
  1. Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.
  2. Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.
  3. Berjalan dengan dibuat-buat.
  4. Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.
  5. Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.
Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita

Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 32)

Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.

Tidak sepantasnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa, dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.
Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:
  1. Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia.
  2. Menjaga kehormatan dan kesucian diri.
  3. Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi. Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya.
Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan kemaksiatan. Allahu A’lam.


Referensi:
Menjaga Kehormatan Muslimah, Syaikh Bakar Abu Zaid.
***

♥ Mengendalikan Balita yang Ingin Selalu Membeli Mainan ♥

Akhir2 ni sering dibuat pusing dengan tingkah polah kaka Aisyah yang suka merengek minta dibelikan mainan, Alhamdulillah nemu tips dari ummu musasyi yang insyaAlloh perlu tuk coba dipraktekkan..

Mengendalikan Balita yang Ingin Selalu Membeli Mainan


Kalau sudah berada dalam situasi seperti ini, biasanya  kaum ibu akan kebingungan sendiri. Kalau anaknya belum sekolah sih, masih mending, tapi kalau sudah sekolah, dan tiap pulang sekolah selalu ada mba-mba, atau mas-mas  yang jual mainan di depan ( diluar pagar ) sekolah......waaaaaaaaaah kacau deh jadinya. Tiap hari kalau ngga "kuat iman " maka terpaksa harus mengeluarkan uang lebih untuk beli mainan ( padahal biasanya umurnya ngga akan lama, kadang ngga nyampe 24 jam, sudah tamat riwayatnya ). Iya kalau harganya seribuan, tapi kalau yang diminta sia anak harganya sudah mencapai 5000 ke atas, dan ini terjadi tiap hari ? Uang belanja bisa tersedot banyak kesana. Anak kecil sih biasanya pakai taktik, ngambek atau ngga mau pulang atau malah ngamuk dan guling-gulingan di depan sekolah, akhirnya dari pada malu , yaaa "nyerah" aja sama permintaan anak......walhasil.....besok begitu lagi.........
Lagipula kalau kebiasaan ini dibiarkan sama saja dengan kita mengajarkannya untuk berperilaku konsumtif, liat apa aja di beli, ngga peduli perlu atau tidak, ada uang atau tidak. Lama-lama kita juga yang akan kerepotan. 


Mengapa kebanyakan balita ( anak PG dan TK ) biasanya begitu ?
Itu karena mereka sukaaaaa sekali kalau semua kemauannya dituruti. Tapi bukan berarti kebiasaannya minta dibelikan mainan disekolah tidak bisa dihentikan atau dikendalikan. Ada 1 cara yang ku rasa cukup ampuh untuk mengatasi kebiasaan "buruk" ini. Yaitu dengan "mencuci otak"nya. Waaaah kedengarannya serem banget ya ?
Ah...tidak sampai segitunya koq. Dan mudah sekali untuk dilakukan.
Caranya ?
Dengan memasukkan sugesti kepada anak. Misalnya katakan saja kepadanya ( dengan tegas tapi lembut ):
" ( sebut namanya )......anak pintar, ngga beli mainan di sekolah " , katakan kalimat tersebut, tiap ada kesempatan ( Disaat anak siap menerima sugesti baik ). Misalnya saat kita memakaikan baju, saat menyisiri rambutnya, sebelum makan, sebelum tidur dst. Dan beri pujian tiap pulang sekolah (kalau dia hari itu tidak minta dibelikan mainan). Kalimat sugesti jangan terlalu panjang. Jangan pula disertai dengan penjelasan kenapa harus begitu. Pendek tapi padat. Kalimat atau penjelasan yang panjang hanya akan membuat anak sulit untuk mencerna. 


Sebaiknya cara ini juga disampaikan ke gurunya, agar guru bisa ikut memberikan sugesti tersebut kepada anak. Sehingga cara kita dan cara gurunya tidak berbeda, dan anak semakin yakin bahwa yang kita sampaikan adalah benar.


Ini berhasil kami lakukan kepada anak kami. Padahal sebelumnya dia adalah anak yang tidak bisa diajak kompromi ( tadinya ), kalau mau sesuatu akan mengamuk sejadi-jadinya. Memukul, menendang, meronta, teriak dst. Setelah setiap hari diberi sugesti baik seperti disebutkan diatas, dia berubah. Tidak lagi minta dibelikan mainan, sampai-sampai tukang mainannya sendiri, mengatakan : " Bu.....anaknya koq bisa berubah sekali, ngga ngamuk lagi...."




Bahkan ada hal lucu yang dia lakukan ( mungkin sebagai ganti beli mainan ) yaitu tiap pulang sekolah dia akan menyalami semua tukang mainan. 



Sumber http://ummahatcorner.blogspot.com/2011/01/mengendalikan-balita-yang-selalu-ingin.html#more

♥ Motivasi tanpa Konfrontasi ♥

Tadinya tidak terlalu yakin dengan cara ini hanya mencoba mencari cara efektif untuk keluar dari masalah yang rata - rata digumamkan para orang tua : " Bagaimana cara membuat anak saya menjadi patuh, sopan, rajin, ramah?  Atau dengan redaksi yang berbeda tapi kontennya sama : " Bagaimana caranya supaya anak saya tidak nakal, tidak boros, tidak sering bolos, tidak susah diatur, tidak tidur larut malam, tidak banyak main ? " dan seterusnya.
Tapi aku tidak ingin cara yang EKSTRIM, maunya yang SOFT, alias anak tidak menyadari kalau kita ingin " MERUBAH "nya. Merubah nya menjadi pribadi yang baik atau lebih baik kita sebut disini dengan : " Menjadikan Anak Kita Menjadi Anak Sholeh ".
Sebelum kita masuk lebih jauh, aku paparkan dulu latar belakang anak yang ingin kurubah ini . Kurasa ini perlu kusampaikan agar saudara/i pembaca sekalian yang terhormat bisa membayang kan  kalau dengan anak  " bermasalah " atau aku lebih suka menyebutnya sebagai " anak yang perlu perhatian istimewa " cara ini bisa berhasil, apalagi kalau diterapkan pada anak yang biasa saja.


Mungkin terbersit pertanyaan : " Memangnya seistimewa apakah anak ku ini ? ". Ya anakku memang istimewa, sebagaimana anak lainnya. Dan yang membuatnya harus di beri perhatian dan perlakuan istimewa adalah karena dia di diagnosa menderita EPILEPSI. aDan karena diagnosa ini seharusnya dia tiap hati minum obat dari dokter, tapi karena beberapa lasan pribadi  maka hal tersebut kami abaikan, dan kami coba dengan obat herbal saja. Epilepsinya pun tidak seperti epilepsi yang banyak kita temukan dimasyarakat, Karena kejangnya cuma terjadi 1 kali, tapi yang sangat menyolok adalah perubahan perilakunya yang sangat drastis. Emosi yang tidak bisa dikendalikan, kadang brutal, ( ini lebih sering ) kadang malah tampak sangat bijaksana. Terlalu banyak keinginan dan harus dituruti, tidak bisa diam, melawan kalau disuruh, malas sekolah, dan seterusnya, bahkan ada 2 hal lain yang membuat kami sekeluarga dibuat takut sekaligus bingung adalah saat emosinya tidak stabil itu dia pernah mengancam ingin bunuh diri, bukan hanya sebatas mengancam, tapi sambil memegang pisau dapur ditangannya, dan yang satu lagi adalah beberapa kali dia bermimpi sesuatu yang belum terjadi dan tidak lama kemudian hal itu terjadi ( seperti paranormal/peramal ), selain itu dia dengan sedikit konsentrasi bisa menemukan benda yang tadinya dianggap hilang atau bisa tau kalau benda tersebut baik-baik saja, alias  berada ditempat yang aman, hal ini  tentu saja membuatku  kuatir karena kalau tanpa iman dan ilmu yang kuat, orang seperti itu bisa menjadi teman dekatnya syaitan kan  ?  Na'uudzubillaahi min dzaalik......padahal usianya belum genap 11 tahun, dengan orang tua yang biasa - biasa saja, ditambah lingkungan tempat tinggal dan sekolahnya yang bisa dikatakan jauh dari  " nafas Islam ".

2009.igem.org
Istilah BERHASIL mungkin terlalu dini , tapi setidaknya tidak sampai 6 bulan sejak mulai kuterapkan ( baru kumulai sejak 3 bulan yang lalu saja ) aku melihat banyak sekali perubahan dalam dirinya.


Oke.....sekarang kita mulai bertindak !!!


  1. Meluruskan niat. Maksudnya disini kita tanamkan di otak kita bahwa pada dasarnya semua anak adalah baik dan ingin menjadi anak yang baik dan  ingin membuat orang tuanya senang dan bangga padanya.
  2. Siapkan 1 buah buku tulis ( aku menyebutnya dengan : BUKU PRESTASI ) dan 1 buah alat tulis. Ini harus selalu ada setiap saat. Agar kita selalu siap.
  3. Mulailah menuliskan semua hal / perbuatan baik dan benar yang dia lakukan hari itu. Yang aku terapkan adalah dimulai di waktu subuh. Sejak dia mulai bangun tidur hingga  menjelang tidur malam , atau bahkan kalau di saat jam tidur dia melakukan sesuatu yang baik ( misalnya dia pipis ke WC sendiri tanpa membangunkan kita ) maka tuliskan saja.
  4. Tuliskan dengan detil. Misal : mandi tanpa di suruh, mengerjakan PR, pulang sekolah langsung ke rumah, dst
  5. Jangan sekalipun menuliskan apapun kesalahannya atau pun kekesalan kita padanya hari itu. Mengapa ? ... karena kita ingin menanamkan hal positif padanya, maka fokuslah pada hal positif saja, agar anak tidak bingung.
  6. Diakhir tulisan kita untuk hari itu, ucapkan terima kasih, tuliskan doa singkat untuknya, dan bubuhi tanda tangan kita.
  7. Serahkan dan minta dia membacanya menjelang tidur malam. Agar sebelum tidurnya dia tau kalau hari itu dia banyak melakukan hal yang baik dan benar, dan orang tuanya mengetahui  dan senang akan hal tersebut. Ini akan terekam dengan baik dialam bawah sadarnya, dan insya Allah tidak akan terlalu sulit lagi untuk diulangi di hari berikutnya. 
Kelebihan cara ini adalah :
  • Kita akan terlatih untuk mencari sisi positif dari anak kita, semoga juga bisa untuk orang lain ( tidak selalu mencari kesalahan orang lain ).
  • Kita masih bisa menegur kalau anak kita melakukan kesalahan, atau malah memberikan " hukuman ", tapi camkan : JANGAN PERNAH sekalipun menuliskannya di " BUKU PRESTASI " tersebut.
  • Meskipun idealnya kedua orang tua melakukan hal yang sama (masing - masing punya BUKU PRESTASI si anak ), tapi kalau hanya salah satunya saja yang bisa maka itu pun sudah cukup.

Syarat lain :
  • Anak sudah bisa membaca.
  • Harus orang tua sendiri yang melakukan. Jangan diwakilkan dengan Nanny/ Mba pengasuhnya. 
  • Lakukan tiap hari tanpa jeda.
  • Gunakan kalimat pendek dan jelas.
  • Tulis berurutan.
  • Janga lupa untuk menyertakan anak dalam doa kita dan sebut namanya dalam doa tersebut.
Berikut ini aku sertakan beberapa contoh kalimat yang pernah aku tulis di BUKU PRESTASI anakku:
Hari : Sabtu
Tanggal : 15 Januari 20011

Yang membuat mama senang hari ini adalah karena Muhammad :
  1. Mudah dibangunkan untuk sholat subuh berjamaah.
  2. Persiapan sekolah sendiri.
  3. Sarapan tanpa protes.
  4. Keluar dan masuk rumah dengan salam. 
  5. Pulang sekolah dengan gembira.
  6. Sholat zhuhur di awal waktu.
  7. Makan siang dengan lahap.
  8. Membantu mama menjemur sepatu.
  9. Membantu mama mengangkat keset.
  10. Sholat ashar berjamaah.
  11. Bermain dengan Saif dan Syihab.
  12. Sholat maghrib berjamaah.
  13. Tidak keluar rumah ba'da maghrib.
  14. Baca Qur'an ba'da maghrib.
  15. Sholat isya berjamaah.
  16. Makan makam bersama mama dan abah.
  17. Tidur cepat.

Jazakallah khayran. Barakallaahu fiik.

Mama


Sejauh ini sudah tampak beberapa kemajuan yang diperlihatkan anak kami setelah cara ini diterapkan diantaranya :
  • Lebih mampu mengendalikan amarah.
  • Mudah dimintai tolong.
  • Tidak pernah lagi menunjukkan kemalasan untuk berangkat sekolah maupun les.
  • Mulai tahu cara meminta dengan sopan.
  • Sebenarnya tanpa disuruhpun dia akan melaksanakan sholat diawal waktu, tapi karena ini perkara peting maka kami tetap selalu mengingatkannya, utamnya untuk sholat diawal waktu dan secara berjamaah.
  • Hampir tidak pernah lagi mengigau ( padahal dulu sering sekali, mungkin ini karena kekesalan dan kekecewaannya yang terakumulasi dan baru keluar saat tidur ).
  • Dst.

Untuk ummu musasyi..jazakillah khoyr

Selasa, 15 Februari 2011

Ya Rabbi...

Ya Robb.. kami telah sia-siakan kepercayaaan-Mu
Kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
Hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami
Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan
meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongan dan kesepian
Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami menjadi pemberang, pembangkang, keras, kasar, kejam, dan tidak tahu terimakasih..
Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Alloh, ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami


Ya Robb..berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka
dengan dekapan kasih sayang kami
berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka ayat-ayat Alquran dan sunnah Nabi-Mu
Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu
dan memohon kepada-Mu seusai sholat kami untuk keselamatan, kesehjateraan, dan kebahagiaan anak-anak kami
Bangunkan kami ditengah malam untuk merintih kepada-Mu
membasahi tempat sujud kami dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami


Ya Robb..Indahkan kehidupan kami dengan keshalehan anak-anak kami
sehatkan badan mereka, cerdaskan akal mereka, bersihkan kehormatan mereka, gabungkan mereka bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu....
Ya Rohmaan..ya Rohiim..sayangi kami...yang hanya bermodal harapan dan bersenjatakan tangisan...




Sumber: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_126893704045727&notif_t=group_activity

Duhai...bidadari kecilku..

Bismillah..

Anakku………ini ummi

Saat ini ummi mengingatmu…. 


Dan kulihat tatapanmu yang lugu dan sinar mata yang berbinar, 
saat ummi memanggilmu…..


Anakku….. 
Ternyata aku….ummimu belum bisa memberikan yang terbaik untukmu,
belum bisa menyenangkan hatimu...
Ummi masih suka teriak….
Ummi masih suka marah…..
Ummi masih suka membentak…..
Ummi masih suka kesal….
dan emosi bila melihatmu nakal dan tidak menuruti perintah ummi…..


Anakku….
Kalau ummi marah selalu terucap kata “nakal”….
karena pasti membuat hatimu terluka..
Pada saat itu, kamu pasti ketakutan dan menangis sampai kamu tertidur…..
tapi ummi masih tetap saja marah sambil membersihkan rumah karena ulahmu 
dan ketika kamu terbangun lalu menyapa ummi dengan senyum manismu….
seakan melupakan kemarahan ummi...




dicuplik dari sbuah grup fb special tuk kaka' n ade semoga Alloh senantiasa merahmatimu
wahai permata hatiku....
free counters
free counters